Khutbah Jum’at – 20130329

Bismillah,

Sungguh tidak ada kecerdasan yg lebih tinggi, amala yg sangat mulia, dan pahala paling agung dari diri seorang Muslim setelah ia beriman dan berjihad kecuali senantiasa memuliakan orangtuanya dan merawatnya hingga akhir hayat.

اَللّهُ sendiri telah menegaskan dalam firman-Nya bahwa kedudukan orang tua sangatlah mulia. Bahkan karena begitu mulianya, اَللّهُ langsung memandu umat Islam agar jangan sampai salah dalam bergaul untuk memuliakan orang tua, lebih-lebih bagi mereka yg telah lanjut usianya. Walaupun sekedar berkata “ah” saja اَللّهُ sangat melarangnya!

Perhatikan firman اَللّهُ berikut ini:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al Isra(17):32)

Ayat di atas sangat penting dan utama untuk diperhatikan dan diamalkan oleh seluruh umat Islam agar benar-benar bersemangat dalam memuliakan orangtua. Apalagi, perintah اَللّهُ ini begitu tegas setelah perintah untuk ikhlas beribadah hanya kepada-Nya, tanpa mempersekutukan-Nya.

Hal ini mengandung makna bahwa umat Islam yg tidak memuliakan orang tuanya berarti dia tidak berhak atas kemuliaan. Yang akan datang padanya hanyalah kehinaan demi kehinaan, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam sebuah hadits disebutkan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Sungguh hina, sungguh hina, kemudian sungguh hina orang yang mendapatkan salah seorang atau kedua orang tuanya lanjut usia (semasa hidupnya), namun ia (orang tuanya) tiada memasukkannya ke surga.” (HR Muslim).

Sungguh kerugian besar bila ada seorang Muslim yg menjumpai orang tuanya lanjut usia tapi tidak merawatnya dengan tangan sendiri, lebih mementingkan dirinya sendiri, mengkhawatirkan masa depannya sendiri, dan malah menitipkan orang tuanya ke panti jompo. Padahal dirinya tumbuh dewasa dan pintar karena pengorbanan tanpa pamrih dari orangtuanya. Dengan perantara orangtua kita, maka kita bisa lahir di dunia. Lalu tumbuh menjadi orang dewasa, berpengetahuan, berpenghasilan, bahkan menjadi orang terpandang.

اَللّهُ juga berfirman,“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman(31):14)

Bahkan dalam berbagai hadits disebutkan keutamaan merawat orang tua jauh lebih tinggi nilainya daripada ikut berperang.

“Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Jahimah bahwasanya Jahimah datang kepada Nabi saw kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, aku ingin ikut berperang, dan aku datang ke sini untuk meminta pendapatmu.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Apakah engkau masih mempunyai ibu?” Dia menjawab, “Ya.” Rasulullah bersabda, “Berbaktilah kepadanya, karena sesungguhnya surga berada di bawah kakinya.” (HR Ibn Majah)

“Abdullah bin ‘Amr bin Ash r.a. berkata bahwa ada seorang lelaki yang datang kepada Nabi saw. Dia meminta izin untuk ikut berperang. Maka Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Apakah kedua orangtuamu masih hidup ?” Dia menjawab, “Ya.” Rasulullah saw bersabda, “Berjuanglah untuk kepentingan mereka.” (HR Bukhari Muslim)

seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw kemudian berkata, “Aku hendak berjanji setia untuk ikut hijrah bersamamu, dan berperang untuk memperoleh pahala dari Allah SWT.” Nabi saw berkata kepadanya:”Apakah salah seorang di antara kedua orangtuamu masih hidup?” Dia menjawab, “Ya. Bahkan keduanya masih hidup.” Nabi saw bersabda, “Engkau hendak mencari pahala dari Allah SWT?” Lelaki itu menjawab, “Ya.” Nabi saw kemudian bersabda, “Kembalilah kepada kedua orangtuamu, perlakukanlah keduanya dengan sebaik-baiknya.” (HR Muslim)

seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw seraya berkata, “Aku datang ke sini untuk menyatakan janji setia kepadamu untuk berhijrah, aku telah meninggalkan kedua orangtuaku yang menangis karenanya.” Maka Nabi saw bersabda, “Kembalilah kepada keduanya, buatlah mereka tertawa sebagaimana engkau telah membuat mereka menangis.” (HR Muslim)

dari Anas r.a. berkata bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw sambil berkata, “Sesungguhnya aku sangat ingin ikut dalam peperangan, tetapi aku tidak mampu melaksanakannya.” Nabi saw bersabda, “Apakah salah seorang di antara kedua orangtuamu masih ada yang hidup?” Dia menjawab,”Ibuku.” Nabi saw bersabda, “Temuilah Allah dengan melakukan kebaikan kepadanya. Jika engkau melakukannya, maka engkau akan mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang mengerjakan ibadah haji, umrah, dan berjuang di jalan Allah.” (HR Thabrani)

sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja sang Ibu menginginkan, orang tersebut bertanya kepada, “Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku?” Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘anhuma, “Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu” (HR Bukhari)

Kisah seorang sahabat, Sa’ad bin Waqash yang diberi dua buah opsi oleh ibunya yang masih musyrik, yaitu kembali kepada kemusyrikan atau ibunya akan mogok makan dan minum sampai mati. Ketika sang ibu tengah melakukan aksinya selama tiga hari tiga malam, sang anak berkata, “Wahai Ibu, seandainya Ibu memiliki 1000 jiwa sekalipun, dan kemudian satu per satu meninggal, tetap aku tidak akan meninggalkan keimanku dan keIslamanku. Karena itu, terserah ibu mau makan atau tidak.” Melihat sikap Sa’ad yang bersikeras itu maka ibunya pun menghentikan aksinya. Sehubungan dengan peristiwa itu, Allah menurunkan ayat:

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman:15).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: