Khutbah Jum’at – 20130208

Mukmin yg sebenarnya adalah yg mengikuti perintah اَللّهُ dan menjauhi larangan-Nya, baik secara lahir (sudah dilakukan) maupun batin (berupa niat atau pikiran jahat).

“Sesungguhnya seorang mukmin mengambil (melaksanakan) adab dari Allah. Kalau Allah meluaskan adab baginya maka akan luas adabnya dan menyempitkannya (menahan dan tidak memberinya adab) maka sempitlah adabnya.” (HR. Al Hakim)

“Barangsiapa menyenangi amalan kebaikannya dan menyedihkan (bersedih dengan) keburukannya maka dia adalah seorang mukmin.” (HR. Al Hakim)

“Tidak ada orang yang lebih mulia di sisi Allah dari seorang mukmin.” (HR. Ath-Thabrani)

Rasululloh SAW sendiri menyatakan kekagumannya kepada kaum mukmin dengan hadits berikut,“Aku mengagumi seorang mukmin. Bila memperoleh kebaikan dia memuji Allah dan bersyukur. Bila ditimpa musibah dia memuji Allah dan bersabar. Seorang mukmin diberi pahala dalam segala hal walaupun dalam sesuap makanan yang diangkatnya ke mulut isterinya.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) Dengan kata lain, apapun kondisinya, seorang mukmin akan selalu memuji اَللّهُ dan bersyukur atas apa2 yg dia terima.

Seorang mukmin hendaklah menjadi pribadi yang kuat, tidak saja dari keimanan (mental) namun juga fisik. “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dalam segala kebaikan. Peliharalah apa-apa yang menguntungkan kamu dan mohonlah pertolongan Allah, dan jangan lemah semangat (patah hati). Jika ditimpa suatu musibah janganlah berkata, “Oh andaikata aku tadinya melakukan itu tentu berakibat begini dan begitu”, tetapi katakanlah, “Ini takdir Allah dan apa yang dikehendaki Allah pasti dikerjakan-Nya.” Ketahuilah, sesungguhnya ucapan: “andaikata” dan “jikalau” membuka peluang bagi (masuknya) karya (kerjaan) setan.” (HR. Muslim)

Orang yang mempunyai akhlak yang baik namun tidak memiliki aqidah Islam ibarat bayangan tubuh yang (sifatnya) tidak kekal karena dia akan hilang pada saat ada cahaya menerpa dirinya.

Seorang mukmin akan saling menguatkan saudaranya sesama mukmin,“Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seumpama bangunan saling mengokohkan satu dengan yang lain. (Kemudian Rasulullah Saw merapatkan jari-jari tangan beliau).” (Mutafaq’alaih)

Rasululloh SAW menjadikan akhlak sebagai pokok risalah. Haditsnya “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al Bazzaar)

Pertanyaannya, mengapa akhlak mesti disempurnakan? Karena yg memberatkan timbangan (kebajikan) di akhirat kelak hanyalah takwa pd اَللّهُ dan akhlak yg baik. “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud)

Meskipun seorang muslim/mukmin suka beribadah, akan tapi jika akhlaknya jelek terhadap tetangganya,maka dia tidak akan disukai اَللّهُ dan Rasul-Nya,“Barangsiapa ingin disenangi Allah dan rasulNya hendaklah berbicara jujur, menunaikan amanah dan tidak mengganggu tetangganya. (HR. Al-Baihaqi).

Di hadits lain disebut “Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu, sesungguhnya Rosululloh sholallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhirat hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Bahkan salah satu tanda kiamat tiba adalah hubungan dan perilaku yg buruk terhadap tetangganya.

“Demi yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya. Tiada tiba kiamat melainkan telah merata dan merajalela dengan terang-terangan segala perbuatan mesum dan keji, pemutusan hubungan kekeluargaan, beretika (berakhlak) buruk dengan tetangga, orang yang jujur (amanat) dituduh berkhianat, dan orang yang khianat diberi amanat (dipercaya).” (HR. Al Hakim)

“Belum akan datang kiamat sehingga seorang membunuh tetangganya, saudaranya dan ayahnya. (HR. Bukhari)

Orang yg berada di naungan akhlak yg mulia maka dia akan:
– menjadi orang yg punya kualitas & penilaian yg baik di mata اَللّهُ
– terhindar dr hal2 buruk

An-Nu’man bin Basyir berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat hal-hal musyabbihat (syubhat / samar, tidak jelas halal-haramnya), yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa yang menjaga hal-hal musyabbihat, maka ia telah membersihkan kehormatan dan agamanya. Dan, barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat, maka ia seperti penggembala di sekitar tanah larangan, hampir-hampir ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai tanah larangan, dan ketahuilah sesungguhnya tanah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada sekerat daging. Apabila daging itu baik, maka seluruh tubuh itu baik; dan apabila sekerat daging itu rusak, maka seluruh tubuh itu pun rusak. Ketahuilah, dia itu adalah hati.'” (HR. Bukhori)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: