Khutbah Jum’at – 20090904

Pemberantasan korupsi di Indonesia bisa dikatakan hanya sandiwara belaka. Ada beberapa ciri/indikasi mengapa hal ini dikatakan sandiwara.

Pertama, adanya tebang pilih. Bisa kita lihat, banyak sekali kasus-kasus korupsi yg terkesan melindungi si koruptor namun orang lain (yg bersih) malah menjadi korban. Contoh paling mudah adalah kasus Susno Duadji. Beliau hendak melaporkan korupsi yg terjadi di Polri dan Gayus, eh, malah beliau yg menjadi korban.

Kedua, hanya bersifat simbolis. Kasus korupsi memang banyak yg dibongkar, namun kita bisa cek, berapa banyak yg diselesaikan hingga tuntas? Hampir semuanya dibiarkan menggantung, menunggu rakyat lupa, untuk selanjutnya muncul kembali di hadapan publik.

Ketiga, komitmennya lemah. Hukuman yg ringan bagi koruptor (atau malah dibebaskan dg dalih tidak ada bukti) serta tidak adanya (sedikit sekali?) usaha untuk mencegah orang melakukan korupsi menunjukkan lemahnya komitmen.

Keempat, semua hanya wacana tanpa tindakan nyata. Jika orang lain (atau lawan politiknya) yg melakukan korupsi, maka langsung diusut dg tuntas. Namun, jika kerabat atau teman yg melakukan korupsi, maka mendadak orang2 menjadi ‘lupa’ dan bodoh.

Apabila serius ingin memberantas korupsi, maka mental korupsi mesti ‘disikat’ dahulu. Jangan menggunakan fasilitas negara/fasilitas kantor untuk keperluan pribadi.

Lalu, bisa digunakan metode terbalik. Yakni, seseorang (pejabat) mesti bisa membuktikan bahwa harta yg dia dia miliki berasal dari cara yg sah (tidak melanggar hukum). Apabila tidak bisa membuktikan, maka harta tersebut disita untuk negara.

Langkah selanjutnya, berikan hukuman yg berat bagi koruptor! Bahkan jika perlu dibuat miskin (seluruh hartanya disita untuk negara) dan si koruptor dijatuhi hukuman mati.

Pada dasarnya, korupsi adalah perbuatan curang/berkhianat. “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu; kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (Al Imran(3):161)

Jika ada koruptor yg menggunakan hartanya untuk beramal (dan berzakat) dengan harapan hartanya menjadi bersih, maka sesungguhnya pemikiran itu salah besar! “ALLOH SWT tidak akan menerima shalat tanpa kesucian (bersuci) dan juga tidak menerima shadaqah dari harta haram.” (HR Muslim, Ibn Majah, At Tarmidzi, Ahmad).

One thought on “Khutbah Jum’at – 20090904

  1. Kocxy says:

    Ya ikhwan. . . Teks khotbahnya udah bagus tapi alangkah bagusnya d’bri arabnya. .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: